Selamat Datang di Bumi Jagad Besemah

27 May, 2015

ADAKAH BERAS PALSU/SINTETIS ? ATAU ISU


Kerupuk plastik, gorengan dengan plastik-lilin,  telur palsu, bakso celen*, makanan dari ayam tiren, boraks, formalin, pijer entah apa lagi upaya mengelabui konsumen. Sekarang beras palsu L Beredarnya kabar beras palsu belakangan ini cukup mengusik kehidapan pemerintah, khususnya kementerian perdagangan dan kementerian pertanian. Kok bisa kecolongan ? Kalau berita bers palsu itu benar, saya percaya beras itu bukan dari Bulog, tapi kalau dari selundupan mungkin saja. Hal ini menyebabkan maraknya operasi pasar di berbagai tempat hingga ke daerah.

Link :
Bu Ida, Temuan beras yang aneh : https://www.youtube.com/watch?v=EwZrSsHDpK4
Aneka macam Palsu-palsuan : https://www.youtube.com/watch?v=ajKuvBpvEv8

Awal Peristiwa  :
Ibu Dewi, Bekasi yang merupakan penjual nasi uduk dan bubur ayam membeli beras di warung dan terasa berbeda saat dimasak dan setelah dimasak. Beras apakah itu ? Setelah diteliti sampel beras dari Ibu Dewi, Pihak Sucofindo menyatakan hasilnya positif sehingga ditemukan adanya senyawa berbahaya, yaitu senyawa polivinil klorida, yang biasa ditemukan pada produk plastik seperti kabel, pipa pralon (PVC). Mau makan paralon J. Kemudian dari satu daerah ke daerah lain bahkan di luar Pulau Jawa diperoleh laporan masyarakat perihal beras palsu ini. Keseharian Ibu Ida mulai terganggu bahkan ada pihak yang terkesan menyudutkan beliau sebagai penyebab keresahan yang terjadi. Apalagi saat kesaksiannya dan hasil tes Sucifindo dibantah oleh pemerintah “Beras Palsu tidak ada”.
Salahkah rakyat kecil yang mengadukan kejanggalan yang ia terima ? dan mengapa pihak setingkat Sucifindo bisa salah ? kemungkinan salah sampel, tes yang belum banyak (hanya tes kualitatif), apalagi terkontaminasi dari peralatan yang digunakan.

Siapakah Sucofindo :
PT Superintending Company of Indonesia (Persero), atau lebih populer disingkat SUCOFINDO, adalah sebuah BUMN Indonesia yang bergerak dalam bidang pemeriksaan, pengawasan, pengujian, dan pengkajian. Saat ini, 95% saham Sucofindo dimiliki Pemerintah Republik Indonesia, dan 5% oleh SGS.

Bahaya Beras Sintetis :
Risiko langsung konsumsi terus takaran tak terbatas, akan menyebabkan sakit perut, mual. Dalam jangka lama dari riset menimbulkan dapat menimbulkan penyakit kanker (Bukan kantong kering). Kabarnya, isu beras palsu ini juga pernah ditemukan juga di China, Malaysia dan India. Tapi kabarnya China membantah adanya beras sintetis, lah kalau telur palsu ? Daging campur kardus gimana ?

Uji Lab versi Lain :
“Kami simpulkan bahwa beras yang diduga plastik tidak ada. Kami imbau kepada masyarakat untuk tak resah. Silakan lakukan pengecekan. Ini yang harus saya sampaikan mudah-mudahan ini beri penjelasan,” kata Badrodin dalam jumpa pers di Kantor Presiden Kompleks Istana Negara, Jl Veteran, Jakarta Pusat, Selasa (26/5/2015).

Siapa yang dirugikan ? sudah pasti konsumen karena menyangkut kesehatan dan keselamatan. Kalau pedagang ? kalau kabarnya pendapatan mereka berkurang, hal itu bisa saja terjadi. Tapi saya yakin hal ini tidak akan berlaku lama karena beras merupakan kebutuhan pokok. Beras tetap akan dicari karena “Belum makan kalau belum makan nasi” sehingga mengganti konsumsi nasi menjadi bahan pangan lain, masih kecil apalagi kalau setiap hari diganti makan roti, pizza, dsb. Setidaknya konsumen menjadi lebih waspada sebelum membeli sama halnya ketika konsumen membeli bahan makanan yang selama ini kerap dipalsukan, misalnya kalau beli tahu “tofu” lihat warnanya, apakah ada tambahan pewarna, kekenyalannya apakah didribble (itu mah bola basket). Peace J
Kalau importir beras rugi enggak ? kan kita meskipun katanya Indonesia itu kaya akan sumberdaya, tongkat batu jadi tanaman, toh kita masih impor beras, impor kedele, impor daging, sampai garam pun impor. uhhuk

Siapa yang benar ? Jadi yang ditemukan masyarakat itu beras apa, yang nyala seperti plastik kalau dibakar, berbeda saat dimasak bahkan mual/sakit setelah dimakan ? Masyakat resah dijejali yang palsu, dari janji palsu hingga bahan makanan juga dipalsukan
Mengungkap kebenaran ini sangat penting karena menyangkut kehidupan manusia. Umat Islam sudah jelas dilarang mengkonsumsi makanan-makan yang dilarang dan berbahaya, tidak hanya isu beras. Semoga semua pihak bisa memberikan kebenaran untuk keselamatan banyak orang, dibandingkan menyimpan sesuatu yang tidak benar hanya untuk menjaga nama baik. Baik pedagang, peneliti siapapun yang berwenang diwajibkan untuk berlaku jujur dalam menyikapi kasus beras berbahaya ini, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim dari ‘Abdullah dia berkata:
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Kalian harus berlaku jujur, karena kejujuran itu akan membimbing kepada kebaikan. Dan kebaikan itu akan membimbing ke surga. Seseorang yang senantiasa berlaku jujur dan memelihara kejujuran, maka ia akan dicatat sebagai orang yang jujur di sisi Allah. Dan hindarilah dusta, karena kedustaan itu akan menggiring kepada kejahatan dan kejahatan itu akan menjerumuskan ke neraka. Seseorang yang senantiasa berdusta dan memelihara kedustaan, maka ia akan dicatat sebagai pendusta di sisi Allah.”

Semoga tidak ada rasa takut untuk mengutarakan kebenaran