Selamat Datang di Bumi Jagad Besemah

16 March, 2014

JEPANG SIAP BANTU JAGA HUTAN PAGARALAM

JEPANG SIAP BANTU JAGA HUTAN PAGARALAM


Penanaman Pohon oleh Walikota Pagar Alam, dr Hj Ida Fitriati 
(Sumber : Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kota Pagar Alam)

Banyaknya kawasan Hutan Lindung di Kota Pagaralam yang mengalami kerusakan ternyata bukan saja menjadi perhatian masyarakat Pagaralam saja. Kondisi hutan tersebut juga telah menjadi perhatian pihak pemerintah Jepang.

Pemerintah Jepang melalui Japan International Coorporation Agency (JICA) siap membantu Pemerintah Kota Pagaralam dalam pengendalian hutan, termasuk mendukung penyelamatan lingkungan di Pagaralam. Tidak hanya itu, pihak Jepang juga siap mempromosikan program pengendalian dampak pemanasan global dan termasuk upaya melestarikan hutan.

Keseriusan pihak Jepang dalam menjaga hutan di Pagaralam terungkap setelah adanya pertemuan antara Walikota Pagaralam dr Hj Ida Fitriati dengan Chief Senior Advisor Japan International Coorporation Agency (JICA), Masato Kawanishi, Pertemuan tersebut membahas tentang berbagai persoalan yang menyangkut penyelamatan hutan sebagai antisipasi kerusakan hutan dan lingkungan.

"Kita ada program mengatasi kerusakan hutan yang cukup luas terdapat di daerah Pagaralam, termasuk apa penyebab utama kerusakan tersebut. Kalau hanya menyangkut persoalan produktivitas petani, kita akan bantu pemecahannya, termasuk membangun infrastruktur, agar petani tidak lagi merusak hutan hanya untuk mendapat lahan pertanian," ujar juru bicara Japan International Coorporation Agency, Masato Kawashi.

Tenaga Pengamanan dan Pemeliharaan Hutan (TPPH) Kota Pagar Alam
(Sumber : Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kota Pagar Alam)

Menanggapi hal tersebut, Walikota Pagaralam, dr Hj Ida Fitriati mengatakan, 60 persen dari luas Pagaralam 63.342 hektare merupakan hutan dan kawasan lindung. Sementara 40 persen lagi merupakan daerah yang produktif sebagai tempat usaha tani masyarakat. Hanya saja pengolahannya belum maksimal.

"Kita memiliki tiga keunggulan yang sangat membutuhkan penerapan teknologi industri agar dapat meningkatkan perekonomian masyarakat, yaitu kopi, perikanan dan pertanian. Selama ini terjadi perambahan hutan, karena banyak masyarakat yang sulit mendapatkan pekerjaan kecuali dengan bertani, sementara ketersedian lahan sudah sangat terbatas," jelasnya.

Dikatakan Walikota, saat ini ada dua hal yang mendasar sebagai pemecahan dari sekian banyak masalah yang dihadapai masyarakat Pagaralam, khususnya petani, yaitu kesulitan sarana transportasi dan irigasi yang belum maksimal. Tentunya butuh dana untuk pengembangan ekonomi masyarakat Pagaralam.

"Infrastruktur pertanian kita yang masih kurang seperti jalan pertanian dan irigasi yang memadai. Untuk itu kita harus menambah fasilitas tersebut agar sektor pertanian kita maju," katanya.

Hutan lindung di Pagaralam, berdasarkan Surat Keputusan (SK) Menteri Kehutanan Nomor SK.76/Menhut-11/2010 seluas 24.618 hektare. Berdasarkan hasil pendataan tim Kementerian Kehutanan Republik Indonesia (RI) dan Dinas Kehutanan Provinsi Sumsel tahun 2009, melalui hasil foto satelit luas hutan lindung di Kota Pagaralam sekitar 24.618 hektare. Data tersebut diperkuat dengan Surat Keputusan (SK) Menteri Kehutanan Nomor SK.76/Menhut-11/2010.

"Rincian luas hutan lindung di lima kecamatan tersebut yaitu Pagaralam Utara 1.033, 133 hektare, Pagaralam selatan 823,507 hektare, Dempo Utara 3.041,391 hektare, Dempo Tengah 8.064,41 hektare dan Dempo Selatan mencapai 11.655,558 hektare, maka jumlah keseluruhan hutan tersebut mencapai 24.618 hektare," paparnya.



Sumber : Sriwijaya Post

Visit Pagar Alam

Latest blog : Pagaralamese.blogspot.com

15 March, 2014

PARIWISATA KOTA PAGAR ALAM : BANDARA : DAHULU SKY TRUCK SEKARANG SUSI AIR

PARIWISATA KOTA PAGAR ALAM :
BANDARA : DAHULU SKY TRUCK SEKARANG SUSI AIR




Kota Pagar Alam yang dikenal memiliki topografi berupa perbukitan-pegunungan menjadikan daerah ini kawasana yang sejuk dan indah. Terdapatnya Gunung Dempo sebagai yang merupakan atap Provinsi Sumatera Selatan dan keindahan perkebunan teh merupakan salahsatu ciri khas kota ini terhadap kabupaten-kota lain di Provinsi Sumatera Selatan. Jalan yang berliku serta bentang alam ini dapat menjadi tantangan bagi para wisatawan, namun juga dapat menjadi hambatan bagi wisatawan mengunjungi. Namun, hambatan itu sedikit bisa teratasi dengan telah dibangunnya bandara atung bungsu dan keberhasilan dua penerbangan pada bandara ini, yaitu Pesawat Sky Truck milik kepolisian dan Pesawat Komersil Susi Air pada kamis, 3 Maret 2014.
Penerbangan perdana dimulai sekitar pukul 08.30 WIB dari Bandara Fatmawati Bengkulu dan tiba di  Bandara Atung Bungsu sekitar pukul 09.15 WIB. Pesawat Susi Air dari Bengkulu ini membawa penumpang Kepala Bandara Fatmawati Bengkulu Sri Murani Aringsih, Manajer Susi Air Rendi Shamir Lubis, Pilot Kapten Matteo Brutti dan Copilot William Shaw.

Selanjutnya dilakukan penerbangan dengan Susi Air yang berpenumpang Wali Kota Pagaralam Hj Ida Fitriati Basjuni, Bupati Lahat H Saifuddinn Aswari Rifai, Ketua DPRD Kota Pagaralam Ruslan Abdun Gani, mantan Wali Kota Pagaralam H Djazuli Kuris, Kepala Bidang (Kabid) Anggaran DPPKA Iwan Mike Wijaya, Alimin Eka Pratama (Pagaralam Pos), dan sejumlah ajudan berhasil dilakukan dengan melakukan penerbangan wisata (joy fligth) mengelilingi kota Pagaralam.

Keberhasilan penerbangan ini membuka jalan transportasi udara yang menghubungkan Kota Pagaralam dengan daerah lain. Transportasi udara melalui bandara Atung Bungsu resmi dibuka seminggu sekali, yakni  setiap Kamis.

Penerbangan dilanjutkan dari Bandara Atung Bungsu menuju Bandara SMB II dengan penerbangan kurang lebih 45 menit. Dengan kondisi ini, jelas perjalanan Kota Pagaralam-Palembang yang selama ini mencapai 7 jam bisa lebih singkat menjadi 45 menit. Hal ini setelah Kementerian Perhubungan melakukan penandatanganan kontrak dengan Susi Air sehingga 14 bandara yang ada harus melayani penerbangan pada 13 Maret 2014 ini.

Visit Pagar Alam

Latest blog : Pagaralamese.blogspot.com

06 March, 2014

SEJARAH KOPI DI INDONESIA

KOPI PAGAR ALAM : SEJARAH KOPI DI  INDONESIA



Kopi pertama kali masuk ke Indonesia tahun 1696 dari jenis kopi Arabika. Kopi ini masuk melalui Batavia (sekarang Jakarta) yang dibawa oleh Komandan Pasukan Belanda Adrian Van Ommen dari Malabar - India, yang kemudian ditanam dan dikembangkan di tempat yang sekarang dikenal dengan Pondok Kopi -Jakarta Timur, dengan menggunakan tanah partikelir Kedaung. Sayangnya tanaman ini kemudian mati semua oleh banjir, maka tahun 1699 didatangkan lagi bibit-bibit baru, yang kemudian berkembang di sekitar Jakarta dan Jawa Barat antara lain di Priangan, dan akhirnya menyebar ke berbagai bagian dikepulauan Indonesia seperti Sumatera, Bali, Sulawesi dan Timor.
Kopi pun kemudian menjadi komoditas dagang yang sangat diandalkan oleh VOC. Tahun 1706 Kopi Jawa diteliti oleh Belanda di Amsterdam, yang kemudian tahun 1714 hasil penelitian tersebut oleh Belanda diperkenalkan dan ditanam di Jardin des Plantes oleh Raja Louis XIV.
Ekspor kopi Indonesia pertama kami dilakukan pada tahun 1711 oleh VOC, dan dalam kurun waktu 10 tahun meningkat sampai 60 ton / tahun. Hindia Belanda saat itu menjadi perkebunan kopi pertama di luar Arab dan Ethiopia, yang menjadikan VOC memonopoli perdagangan kopi ini dari tahun 1725 – 1780. Kopi Jawa saat itu sangat tekenal di Eropa, sehingga orang-orang Eropa menyebutnya dengan “ secangkir Jawa”. Sampai pertengahan abad ke 19 Kopi Jawa menjadi kopi terbaik di dunia.
Produksi  kopi  di Jawa mengalami peningkatan yang cukup siginificant, tahun 1830 – 1834 produksi kopi Arabika mencapai 26.600 ton, dan 30 tahun kemudian meningkat menjadi 79.600 ton dan puncaknya tahun 1880 -1884 mencapai 94.400 ton.
Selama 1 3/4 (Satu – tiga perempat) abad kopi Arabika merupakan satu-satunya jenis kopi komersial yang ditanam di Indonesia. Tapi kemudian perkembangan budidaya kopi Arabika di Indonesia mengalami kemunduran hebat, dikarenakan serangan penyakit karat daun (Hemileia vastatrix) , yang masuk ke Indonesia sejak tahun 1876.  Akibatnya kopi Arabika yang dapat bertahan hidup hanya yang berada pada ketinggian 1000 m ke atas dari permukaan laut,  dimana serangan penyakit ini tidak begitu hebat.  Sisa-sisa tanaman kopi Arabika ini masih dijumpai di  dataran tinggi ijen (Jawa Timur) , Tanah Tinggi Toraja ( Sulawesi Selatan), lereng bagian atas Bukit Barisan ( Sumatera) seperti Mandhailing, Lintong dan Sidikalang di Sumatera Utara dan dataran tinggi Gayo di Nangroe Aceh Darussalam.
Untuk mengatasi serangan hama karat daun kemudian Pemerintah Belanda mendatangkan Kopi Liberika (Coffea Liberica) ke Indonesia pada tahun 1875. Namun ternyata jenis ini pun juga mudah diserang penyakit karat daun dan kurang bisa diterima di pasar karena rasanya yang terlalu asam. Sisa tanaman Liberica saat ini masih dapat dijumpai di daerah Jambi, Jawa Tengah dan Kalimantan.
Usaha selanjutnya dari Pemerintah Belanda adalah dengan mendatangkan kopi jenis Robusta ( Coffea Canephora) tahun 1900, yang ternyata tahan terhadap penyakit karat daun dan memerlukan syarat tumbuh serta pemeliharaan yang ringan , sedangkan produksinya jauh lebih tinggi . Maka kopi Robusta menjadi cepat berkembang menggantikan jenis Arabika khususnya di daerah – daerah dengan ketinggian di bawah 1000 m dpl dan mulai menyebar ke seluruh daerah baik di Jawa, Sumatera maupun ke Indonesia bagian timur.
Semenjak Pemerintah Hindia Belanda meninggalkan Indonesia, perkebunan rakyat terus tumbuh dan berkembang, sedangkan perkebunan swasta hanya bertahan di Jawa Tengah, Jawa Timur dan sebagian kecil di Sumatera; dan perkebunan negara (PTPN) hanya tinggal di Jawa Timur dan Jawa Tengah.

lates blog : Pagaralamese.blogspot.com

WISATA KOTA PAGAR ALAM DANAU SUSU

WISATA KOTA PAGAR ALAM
DANAU SUSU J

                                                                                   foto : Linda 
Setelah ditemukannya Danau Merah di kawasan Rajemendare yang nampak seperti darah, kini lengkaplah warna Indonesia dengan adanya Danau Susu yang namapak berwarna putih, jadi lengkap sudah Merah-Putih Itulah Indonesia. Tempat ini layak anda kunjungi saat di Kota Pagar Alam, yaitu Danau Susu J. Danau susu ini berada dekat dengan Bandara Atung Bungsu di Kota Pagar Alam. Danau susu itulah namanya, tidak tahu siapa yang pertama kali mencetuskan nama tempat ini. Nama tersebut disandangkan  pada tempat ini memang suatu kewajaran karena penampakan air pada danau ini berwarna putih. Ada yang mengatakan air yang nampak putih ini karena adanya kandungan kapur, namun ada pendapat yang beda dari yang lain, katanya air yang nampak putih itu karena tercampur semen ketika pembangunan bandara hihihi (yang penting intinya sama-sama ada kapur, satunya kandungan kapur secara alami dan yang satunya dari pabrik J Kebenarannya masih perlu penelitian atau konfirmasi dari pihak terkait.

lates blog : Pagaralamese.blogspot.com
Visit Pagar Alam

05 March, 2014

WISATA PAGAR ALAM :Bandara Atung Bungsu Kota Pagar Alam segera beroperasi

WISATA PAGAR ALAM :Bandara Atung Bungsu Kota Pagar Alam segera beroperasi


Burung Besi sedang mengudara


Antusiasme masyarakat Kota Pagar Alam





Kota Pagar Alam yang dikenal memiliki topografi berupa perbukitan-pegunungan menjadikan daerah ini kawasana yang sejuk dan indah. Terdapatnya Gunung Dempo sebagai yang merupakan atap Provinsi Sumatera Selatan dan keindahan perkebunan teh merupakan salahsatu ciri khas kota ini terhadap kabupaten-kota lain di Provinsi Sumatera Selatan. Jalan yang berliku serta bentang alam ini dapat menjadi tantangan bagi para wisatawan, namun juga dapat menjadi hambatan bagi wisatawan mengunjungi. Namun, hambatan itu sedikit bisa teratasi dengan telah dibangunnya sebuah bandara.

Kini Kota Pagar Alam sudah memiliki sebuah bandara untuk memperlancar transportasi, terutama cita-cita Kota Pagar Alam untuk menjadi tujuan wisata. Bandara itu diberi nama Bandar Udara Atung Bungsu. Pada tanggal 28 Februari 2014, telah dilakukan uji coba pendaratan pesawat sky truck milik kepolisian. 

lates blog : Pagaralamese.blogspot.com

TEKNIK KONVERSI KOPI ROBUSTA KE ARABIKA PADA LAHAN YANG SESUAI

TEKNIK KONVERSI KOPI ROBUSTA KE ARABIKA PADA LAHAN YANG SESUAI





Benih menjadi pintu gerbang (entry point) utama suatu kehidupan, termasuk bagi kehidupan tanaman. Perannya menjadi lebih strategis bagi tanaman perkebunan yang berumur panjang dan sifat usahanya tahunan. Kesalahan penanaman akibat penggunaan benih yang tidak unggul, akibatnya akan dirasakan selama puluhan tahun. Produktivitas tanaman rendah, masa pengembalian investasi sangat lambat, dan tingkat keuntungan usaha menjadi lebih rendah. Padahal tiga kriteria tersebut menjadi pertimbangan utama bagi usaha di bidang perkebunan, selain aspek sosial dan lingkungan.
Produksi kopi Indonesia pada 2011 mencapai 709.000 ton dari areal seluas 1,3 juta hektar, dimana sebanyak 68% dari total produksi tersebut diekspor keluar negeri, sehingga kopi merupakan salah satu komoditi andalan perkebunan yang mempunyai peran sebagai penghasil devisa negara. Dari luasan 1,3 juta hektar tersebut, seluas 1,01 juta hektar (77,69%)  merupakan pertanaman kopi robusta, sedangkan seluas 290.000 hektar (22,31%) merupakan pertanaman kopi arabika.
Dengan komposisi luasan pertanaman kopi seperti itu, produk kopi Indonesia terkendala dalam persaingan di pasar internasional, mengingat fenomena 70% konsumsi kopi dunia dikuasai kopi jenis arabika, adapun sisanya 30% merupakan konsumsi kopi jenis robusta. Disamping itu kopi arabika mempunyai harga jual yang lebih tinggi daripada kopi robusta, maka untuk meningkatkan nilai pendapatan devisa maupun meningkatkan daya saing kopi Indonesia di pasar internasional adalah dengan jalan meningkatkan proporsi produksi kopi arabika.
Salah satu alternatif untuk meningkatkan produksi kopi arabika adalah dengan cara ektensifikasi.  Tetapi dikarenakan cara ekstensifikasi pada lahan-lahan baru sulit dilakukan, mengingat kopi jenis ini hanya dapat tumbuh dan berproduksi optimal di dataran tinggi dengan kisaran 1.000 meter dari permukaan laut, sedangkan lahan seperti itu di Indonesia umumnya merupakan lahan kehutanan yang tidak bisa dialihfungsikan menjadi lahan perkebunan, maka cara ekstensifikasi yang paling memungkinkan untuk dilakukan adalah dengan melakukan konversi kopi robusta ke arabika pada lahan-lahan yang sesuai.
Data yang dirilis Ditjenbun (2012) menunjukkan bahwa sebanyak ± 60% dari luasan perkebunan kopi di Indonesia saat ini telah berumur diatas 25 tahun yang sudah kurang produktif, sehingga sudah saatnya dilakukan rehabilitasi peremajaan. Dimana pada pertanaman kopi yang perlu direhabilitasi tersebut didominasi oleh pertanaman kopi robusta, maka rehabilitasi pada lahan-lahan yang sesuai untuk budidaya kopi arabika dapat dilakukan dengan cara konversi kopi robusta menjadi kopi arabika, dikarenakan banyak petani pada umumnya masih mengusahakan tanaman kopi secara bercampur antara kopi arabika dan robusta pada lahan-lahan yang sesuai untuk budidaya kopi arabika. Seperti halnya yang terjadi di pertanaman kopi rakyat di Kabupaten Bangli, Propinsi Bali, dimana sekitar 40% tanaman kopi robusta ditanam pada lahan-lahan yang sesuai untuk budidaya kopi arabika.
Kasus penanaman kopi robusta yang dilakukan pada lahan-lahan yang sesuai untuk kopi arabika pada pertanaman kopi rakyat di Kabupaten Bangli, tentu juga terjadi pada pertanaman kopi rakyat di daerah lainnya di Indonesia, mengingat bahwa sekitar 96% perkebunan kopi di Indonesia merupakan perkebunan rakyat yang umumnya belum menerapkan teknik budidaya yang benar. Oleh karena itu, rehabilitasi pada pertanaman kopi dengan kondisi demikian lebih tepat dilakukan dengan cara konversi tanaman kopi robusta menjadi kopi arabika, mengingat kondisi agroekologinya yang sesuai untuk pertumbuhan kopi arabika.
Dalam konversi tanaman kopi robusta menjadi kopi arabika dilakukan dengan teknik sambung, dimana tanaman kopi robusta berlaku sebagai batang bawah, adapun batang atas adalah kopi arabika varietas unggul. Pelaksanaan teknik sambungan di lapangan dilakukan  dengan menggunakan metode siwingan, yaitu dengan memangkas separuh bagian tajuk kopi robusta diatas sambungan. Metode ini selain dapat mendorong pertumbuhan sambungan lebih sehat, juga masih dapat diperoleh hasil panen dari kopi robusta hingga 55%. Dengan metode konversi ini juga mudah dilakukan penggantian jenis klon batang atas bila didapatkan klon-klon baru yang lebih unggul pada masa yang akan datang.
Dari hasil penelitian yang dilakukan Rubiyo dan Suharyanto (2007) mengenai konversi kopi robusta menjadi kopi arabika pada perkebunan kopi rakyat di Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Propinsi Bali, mendapatkan bahwa:
1.      Penerapan teknologi rehabilitasi konversi kopi robusta menjadi kopi arabika dengan teknik sambung memberikan dampak perubahan tidak saja pada aspek produksi dan pendapatan petani, tetapi juga memberikan dampak pada struktur biaya usahatani termasuk struktur tenaga kerja.
2.      Penerapan teknologi telah meningkatkan biaya input usahatani hingga 69,93%, adapun terhadap produktivitas usahatani peningkatannya
lebih rendah yaitu 59,17%.  Walaupun demikian pendapatan usahatani meningkat sekitar 142,54% dikarenakan faktor harga output yang kondusif, dimana harga kopi arabika jauh lebih mahal dibandingkan kopi robusta.
Selain di Propinsi Bali, teknik rehabilitasi konversi ini telah diterapkan pada perkebunan kopi rakyat di Propinsi Aceh, Lampung dan Nusa Tenggara Timur, diharapkan kedepan penerapan teknik ini dapat juga  menjangkau perkebunan-perkebunan kopi rakyat di propinsi lain, sehingga lambat laun dapat meningkatkan proporsi luasan maupun produksi kopi arabika di Indonesia. Seperti diketahui dari empat negara produsen utama kopi dunia, dimana Indonesia  berada di urutan keempat produsen terbesar  setelah Brasil, Vietnam, dan Kolombia, selama ini hanya Indonesia dan Vietnam yang dominan menghasilkan kopi robusta, adapun produksi kopi Brazil didominasi oleh kopi arabika yang mencapai 76%, bahkan produksi kopi arabika Kolumbia mencapai 98%, bandingkan dengan Indonesia yang pada tahun 2011 hanya memproduksi kopi arabika sebanyak 22%.
Walaupun produksi kopi arabika Vietnam pada tahun 2011 masih sekitar 5%, tetapi saat ini Vietnam telah melakukan program yang agresif dan terarah dalam konversi tanaman kopi robusta ke kopi arabika, sehingga sebagai pesaing Indonesia jangan terlena dan harus mencermati langkah Vietnam tersebut.  Dukungan pemerintah Vietnam sangat nyata bagi peningkatan areal dan produktivitas kopi arabika, dimana selama ini keberhasilan Vietnam dalam pengembangan kopi mendapat dukungan penuh pemerintah seperti membangun jalan-jalan di sentra produksi kopi untuk memperlancar transfortasi hasil panen serta pembangunan fasilitas prasarana dan sarana lainnya, yang menunjang pengembangan kopi, begitupun peningkatan dana penelitian, penyuluhan maupun bantuan kredit bagi petani, sehingga Vietnam yang beberapa tahun lalu sama sekali tidak terdengar soal kopinya namun berkat dukungan pemerintahnya dengan demikian gencar menjadikan produksi kopi Vietnam menjadi hebat, nampaknya dalam hal ini Indonesia perlu belajar dari Negara Vietnam.
Diharapkan keberhasilan teknologi rehabilitasi konversi kopi robusta menjadi kopi arabika dengan tanpa harus membongkar tanaman kopi robusta yang sudah tua, dapat juga berhasil meningkatkan daya saing kopi Indonesia terutama kopi arabika  di pasar internasional, mengingat kopi arabika asal Indonesia sudah memiliki reputasi baik di pasar internasional sebagai kopi spesialti yang bercitarasa tinggi, yang akan berdampak positif pada peningkatan pendapatan petani, peningkatan nilai devisa serta peningkatan perekonomian Indonesia (Rubiyo, Bambang E.T. dan Juniaty Towaha/BALITTRI).


Sumber: Balai Penelitian Tanaman Industri dan Penyegar (BALITTRI)

lates blog : Pagaralamese.blogspot.com

KOPI PAGARALAM : SEJARAH KOPI DI INDONESIA

KOPI PAGARALAM
SEJARAH KOPI DI  INDONESIA



Kopi pertama kali masuk ke Indonesia tahun 1696 dari jenis kopi Arabika. Kopi ini masuk melalui Batavia (sekarang Jakarta) yang dibawa oleh Komandan Pasukan Belanda Adrian Van Ommen dari Malabar - India, yang kemudian ditanam dan dikembangkan di tempat yang sekarang dikenal dengan Pondok Kopi -Jakarta Timur, dengan menggunakan tanah partikelir Kedaung. Sayangnya tanaman ini kemudian mati semua oleh banjir, maka tahun 1699 didatangkan lagi bibit-bibit baru, yang kemudian berkembang di sekitar Jakarta dan Jawa Barat antara lain di Priangan, dan akhirnya menyebar ke berbagai bagian dikepulauan Indonesia seperti Sumatera, Bali, Sulawesi dan Timor.
Kopi pun kemudian menjadi komoditas dagang yang sangat diandalkan oleh VOC. Tahun 1706 Kopi Jawa diteliti oleh Belanda di Amsterdam, yang kemudian tahun 1714 hasil penelitian tersebut oleh Belanda diperkenalkan dan ditanam di Jardin des Plantes oleh Raja Louis XIV.
Ekspor kopi Indonesia pertama kami dilakukan pada tahun 1711 oleh VOC, dan dalam kurun waktu 10 tahun meningkat sampai 60 ton / tahun. Hindia Belanda saat itu menjadi perkebunan kopi pertama di luar Arab dan Ethiopia, yang menjadikan VOC memonopoli perdagangan kopi ini dari tahun 1725 – 1780. Kopi Jawa saat itu sangat tekenal di Eropa, sehingga orang-orang Eropa menyebutnya dengan “ secangkir Jawa”. Sampai pertengahan abad ke 19 Kopi Jawa menjadi kopi terbaik di dunia.
Produksi  kopi  di Jawa mengalami peningkatan yang cukup siginificant, tahun 1830 – 1834 produksi kopi Arabika mencapai 26.600 ton, dan 30 tahun kemudian meningkat menjadi 79.600 ton dan puncaknya tahun 1880 -1884 mencapai 94.400 ton.
Selama 1 3/4 (Satu – tiga perempat) abad kopi Arabika merupakan satu-satunya jenis kopi komersial yang ditanam di Indonesia. Tapi kemudian perkembangan budidaya kopi Arabika di Indonesia mengalami kemunduran hebat, dikarenakan serangan penyakit karat daun (Hemileia vastatrix) , yang masuk ke Indonesia sejak tahun 1876.  Akibatnya kopi Arabika yang dapat bertahan hidup hanya yang berada pada ketinggian 1000 m ke atas dari permukaan laut,  dimana serangan penyakit ini tidak begitu hebat.  Sisa-sisa tanaman kopi Arabika ini masih dijumpai di  dataran tinggi ijen (Jawa Timur) , Tanah Tinggi Toraja ( Sulawesi Selatan), lereng bagian atas Bukit Barisan ( Sumatera) seperti Mandhailing, Lintong dan Sidikalang di Sumatera Utara dan dataran tinggi Gayo di Nangroe Aceh Darussalam.
Untuk mengatasi serangan hama karat daun kemudian Pemerintah Belanda mendatangkan Kopi Liberika (Coffea Liberica) ke Indonesia pada tahun 1875. Namun ternyata jenis ini pun juga mudah diserang penyakit karat daun dan kurang bisa diterima di pasar karena rasanya yang terlalu asam. Sisa tanaman Liberica saat ini masih dapat dijumpai di daerah Jambi, Jawa Tengah dan Kalimantan.
Usaha selanjutnya dari Pemerintah Belanda adalah dengan mendatangkan kopi jenis Robusta ( Coffea Canephora) tahun 1900, yang ternyata tahan terhadap penyakit karat daun dan memerlukan syarat tumbuh serta pemeliharaan yang ringan , sedangkan produksinya jauh lebih tinggi . Maka kopi Robusta menjadi cepat berkembang menggantikan jenis Arabika khususnya di daerah – daerah dengan ketinggian di bawah 1000 m dpl dan mulai menyebar ke seluruh daerah baik di Jawa, Sumatera maupun ke Indonesia bagian timur.
Semenjak Pemerintah Hindia Belanda meninggalkan Indonesia, perkebunan rakyat terus tumbuh dan berkembang, sedangkan perkebunan swasta hanya bertahan di Jawa Tengah, Jawa Timur dan sebagian kecil di Sumatera; dan perkebunan negara (PTPN) hanya tinggal di Jawa Timur dan Jawa Tengah.


Sumber : http://www.aeki-aice.org/

lates blog : Pagaralamese.blogspot.com

04 March, 2014

PERKEMBANGAN GRAFTING / PENYAMBUNGAN / SETEK KOPI Part II

PERKEMBANGAN GRAFTING / PENYAMBUNGAN / SETEK KOPI Part II
PADA KOPI DI KOTA PAGAR ALAM

Penyambungan tanaman kopi merupakan salah satu program pemerintah Kota Pagar Alam dalam meningkatkan produktivitas kopi. Masyarakat ada yang menyebut proses penyambungan atau grafting ini dengan sebutan setek bahkan “ngawinkah kawe “ J dengan petani kopi sebagai penghulunya. Perbedaan lafal tersebut bisa membuat terjadinya kekeliruan dengan teknik-teknik yang lain, misalnya setek yang umunya digunakan dalam teknik perbanyakan tanaman, contohnya ketela pohon atau ubi kayu. Daripada mempermasalahkan lafal tersebut, yuk kita lihat pertumbungan dan perkembangan tanaman kopi yang berhasil  disambung  mulai dari munculnya tunas hingga belajar berbuah. 

Tunasnya sudah muncul 
Seharusnya plastik penutup belum boleh dibuka karena tunasnya masih kecil dan belum kuat

 sekarang tumbuh lebih besar

  sekarang tumbuh lebih besar dari sebelumnya

semakin tumbuh lebih besar dari sebelumnya 

 Tunas/ batang atas di lihat dari dekat

 sambungan antara batang bawah dan batang atas sudah semakin erat



sekarang batang atas sudah belajar berbunga, Ha Wa Coffea 

Berbuahlah dengan  banyak dan besar

Berminat mencoba ? (dandi)
lates blog : Pagaralamese.blogspot.com

WISATA PAGAR ALAM MEGALITHIKUM : WARISAN KEKAYAAN BUDAYA JAGAD BESEMAH

WISATA PAGAR ALAM
MEGALITHIKUM : WARISAN KEKAYAAN  BUDAYA JAGAD BESEMAH




Situs tangga batu ini bentuknya memanjang hingga sekitar 20 meter, terdiri dari batuan keras yang terpahat dan disusun berundak seperti tangga hingga ketinggian lebih kurang 4 meter dan diameter terjauh berada di bagian tengah dengan lebar sekitar 5 meter. Di berbagai sisinya terdapat berbagai arca dan relief, seperti pada bagian bawah depan terdapat arca yang menyerupai kepala manusia. Sementara pada bagian sisi samping atas terdapat relief yang menyerupai hewan gajah. Namun sayang, belalai gajah pada relief ini tak sempurna lagi. Menurut Masyarakat berdasarkan cerita orang-orang tua, Dahulu pada situs ini terdapat patung, namun sekarang tidak bisa menemukannya. Begitu pula cerita mengenai adanya tapak kaki puyang Serunting Sakti yang katanya ada di sekitar sini belum berhasil kita temukan. Jika kita bersihkan, di sisi-sisi tangga batu ini juga masih banyak patung-patung lainnya. Batu megalit lainnya yang baru terungkap berbentuk kerbau, terletak di tepian Sungai Selangis Dusun Gunung Ilir, Kelurahan Agunglawangan, Kecamatan Dempo Utara. Batu megalit yang selama ini oleh warga setempat dinilai tak lebih dari batu-batu pada umumnya tersebut berposisi seperti seekor kerbau yang tengah berbaring dengan kaki terlipat. Meski dua tanduk yang menjadi salah satu ciri kerbau sudah patah, serta beberapa bagian tubuh dari batu megalit tersebut telah berubah menjadi lahan tumbuhnya rerumputan, namun bentuknya masih dapat dengan jelas menggambarkan seekor kerbau.
Dengan ukuran 2 meter kali 1,5 meter, batu megalit berwarna putih kemerah-merahan itu secara keseluruhan berukuran dua kali lipat dari ukuran kerbau sebenarnya. Sayangnya, ketika tim mengunjungi lokasi yang dimaksud, batu kerbau tak nampak. Hujan yang terus-terusan mengguyur Kota Pagarlam membuat batu kerbau tergenang. "Sayang air sedang besar, batunya tak terlihat dengan jelas," kata Afan, salah seorang warga.
Batu megalit berikutnya berbentuk seorang ibu yang sedang menggendong anaknya. Batu megalit ini ditemukan seorang warga bernama Aan, juga di Dusun Gunung Ilir. Hanya saja batu megalit ini ditemukan di areal persawahan, "Ukurannya lebih kurang tiga kali drum minyak," terang Afan. Saat ditemukan, batu setinggi 1,5 meter tersebut kondisinya sudah tidak utuh lagi, "Kepalanya sudah lepas," lanjut Apan.
Batu megalit lainnya yang baru ditemukan berbentuk gong dengan ukuran lebih kurang lima kali ukuran drum minyak. Selain bentuknya yang mirip alat musik tradisional gong. Batu megalit berbentuk bundar lonjong dengan tinggi 1 meter, lebar 2 meter dan pajang 5 meter tersebut juga mengeluarkan suara yang nyaris sama persis dengan gong manakala dipukul. Batu megalit gong tersebut ditemukan di kebun kopi milik warga Dusun Atung Bungsu Kecamatan Dempo Selatan. Dusun tersebut hanya berjarak lebih kurang 1 km dari lokasi pembangunan lapangan terbang (lapter) Atung Bungsu. Baru-baru ini juga ditemukan megalit berbentuk kursi batu. Lokasi penemuan megalit ini berjarak dua kilometer dari Dusun Talangkubangan atau satu jam berjalan kaki menelusuri tebing dan kebun kopi. Ukurannya 50 x 50 sentimeter dan tinggi 50 sentimeter serta lebar 50 sentimeter. Balai Arkeologi Palembang Kristantina Indriastuti mengatakan, penemuan megalit kursi batu masih perlu dikaji kebenarannya. "Untuk memastikan zaman dan apa jenis megalit kursi batu itu perlu dilakukan penelitian lagi. Tapi kalau melihat dari bentuk, tentunya megalit itu sudah berumur ribuan tahun sehingga diharapkan masyarakat terus menjaganya dengan baik," ujarnya.




Visit Pagar AlamJ

Sumber : Besemah Pagar Alam

lates blog : Pagaralamese.blogspot.com

WISATA KOTA PAGAR ALAM DITEMUKAN MEGALIT (PRASASTI) BATU TULIS DI KOTA PAGAR ALAM

WISATA KOTA PAGAR ALAM
DITEMUKAN MEGALIT (PRASASTI) BATU TULIS DI KOTA PAGAR ALAM




Dua batu megalit baru bertuliskan huruf palawa berukuran 2x3 meter ditemukan di hutan Dusun Talangkubangan.  Kelurahan Kancediwe, Kecamatan Dempo Selatan, Kota Pagaralam. Lokasi penemuan megalit tersebut di daerah perbatasan Tiga wilayah yaitu Kota Pagaralam, Kabupaten Muaraenim dan Lahat. Batu megalit ini mirip dengan prasasti dan letaknya terlihat seperti berada di sebuah perkampungan yang sudah lama tidak ditempati lagi. Kondisi tersebut ditunjukkan masih banyaknya tanaman seperti hiasan halaman rumah berupa bambu kuning kecil yang masih tertata rapi. Batu megalit yang baru ditemukan tersebut juga berada di kawasan sumber panas bumi seluas 3-4 hektare.
Menurut Irwan, Warga Talang Kubangan yang merupakan penemu pertama prasasti tersebut ia sudah pernah menemukan batu megalit sejenis di daerah Bukit Ghanggas atau Lengkenai Bughul di perbatasan tiga daerah wilayah tersebut. Warga desa Talangkubangan itu menyatakan, di areal sekitar batu megalit itu terdapat sejumlah tanaman hias seperti bambu kuning ukuran kecil dan penanamannya tertata rapi berjejer, la mengungkapkan, jika dilihat dari keadaan areal sekitar batu megalit itu, menunjukkan areal temua batu megalit itu belum pernah didatangi orang.
"Saat kami temukan, kondisi batu itu masih utuh tegak lurus dan dipermukaannya banyak tulisan. Mungkin tulisan manusia zaman dulu. Soalnya kami juga tidak tahu apa arti tulisan di batu megalit itu," katanya. Hal senada juga diungkapkan Almani, warga Talangkubangan lainnya. "Batu yang baru kami temukan itu bentuknya mirip bangunan rumah. Letaknya tidak jauh dari sungai dan daerah hutan yang ada sumber panas buminya," kata Almani. Sementara itu, Petugas Kantor Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3 Jambi) wilayah kerja Jambi, Sumsel, Bengkulu dan Babel, Akhmad Rivai, mengatakan memang sudah banyak ditemukan batu megalit, arca atau peninggalan bersejarah di daerah tersebut, la mengatakan daerah yang paling banyak menyimpan batu megalit berada di daerah Desa Talang Batu Gong Kecamatan Dempo Selatan dan Desa Skendal, Kecamatan Pajar Bulan, Lahat. Warisan Masa Lalu yang Belum Terungkap Kota Pagaralam yang secara kasat mata sudah menyuguhkan keeksotisan sedemikian rupa, ternyata juga menyimpan keeksotisan tersembunyi yang tertanam di tanahnya. Belum lama ini beberapa batu megalit berhasil ditemukan di sana.
Satu-persatu peninggalan sejarah di daerah ini mulai diungkap. Seperti halnya, situs tangga batu ini, penggaliannya dilakukan secara gotong royong oleh warga dengan dikomandoi oleh lurah hingga camat. Salah satu dari sekian banyak situs tersebut terdapat di Dusun Cawang Baru, Kelurahan Rebah Tinggi, Kecamatan Dempo Utara. Penduduk di daerah ini telah lama mengetahui keberadaan sebuah situs yang terletak sebuah delta yang memisahkan Ayek (sungai) Selangis dengan Ayek Cawang. Mereka menyebut daerah ini sebagai situs Tangga Batu. Masyarakat sudah tahu keberadaan situs ini sejak lama karena lokasinya tak jauh dari dusun tempat tinggal mereka, sekitar 3 kilometer dan warga juga sering melewatinya.

Visit Pagar AlamJ
Sumber : Besemah Pagar Alam

lates blog : Pagaralamese.blogspot.com

WISATA PAGARALAM PESAN DIBALIK MEGALIT MANUSIA DILILIT ULAR

WISATA PAGARALAM
PESAN DIBALIK MEGALIT MANUSIA DILILIT ULAR




Di Kelurahan Tanjung Aro, ada peninggalan keluhuran budaya Jagad Besemah masa lampau yaitu, sebuah batu berukuran cukup besar berbentuk dua orang manusia yang sedang dililit ular. Batu  yang dalam pelajaran sejarah disebut megalit ini diyakini sebagai peninggalan zaman purbakala (megalithikum). Bentuk batu yang aneh ini memunculkan berbagai cerita di kalangan masyarakat. Menurut cerita, batu itu merupakan perwujudan dua sejoli yang melanggar norma sehingga alam menjadi murka.

Dahulu kala kawasan Tanjung Aro dianggap sebagai kawasan yang suci. Pada masa itu, ada sepasang kekasih yang sedang jatuh cinta. Saat sedang bertemu di kawasan yang dianggap suci, keduanya melepas rindu hingga lupa diri hingga telah melakukan perbuatan yang melanggar norma adat. Meskipun tidak ada yang melihat perbuatan mereka, namun alam menjadi murka. Tanpa mereka sadari, seekor ular raksasa datang menghampiri mereka yang sedang melepaskan cinta. Ular itu melilit kedua pasangan itu hingga akhir napasnya.

lates blog : Pagaralamese.blogspot.com

WISATA PAGAR ALAM :KAWASAN MEGALITH PAGAR ALAM

WISATA PAGAR ALAM :KAWASAN MEGALITH PAGAR ALAM


 Rumah Batu
Arca Manusia


Sebagai sebagai kota yang berbasis pada pertanian, Kota Pagar Alam yang memiliki cita-cita sebagai kota budaya dan pariwisata, pembangunan kawasan pariwisata merupakan salah satu program strategis guna melestarikan budaya tanah besemah serta mengangkat citra Kota Pagar Alam. Sebagai kota yang memiliki potensi sumberdaya pariwisata, mulai dari lanskap alam yang indah, peninggalan sejarah, sampai Kepada keramahan penduduknya yang bisa dirasakan oleh  para pengunjung.
Sangatlah tepat bila Pagaralam disebut sebagai kota wisata, karena banyak sekali terdapat objek-objek wisata yang bisa dikunjungi dan mempunyai keindahan tersendiri. Mulai dari wisata alam sampai kepada wisata peninggalan sejarah dan budaya, sebagai contoh: Batu Gong di Dusun Nanding, Arca Manusia Purba Di Desa Belumai, Tradisi Megalith, Megalith Besemah, Lukisan Purba di Besemah dan Kebudayaan suku Besemah Objek-objek wisata tersebut sangat menakjubkan karena keindahan dan kekhasannya yang tidak terdapat di daerah lain. Seperti halnya dengan batu-batu peninggalan manusia purba.
Batu-batu tersebut terdiri dari berbagai bentuk dan ukuran, ada yang berbentuk manusia, hewan, rumah batu. lesung batu dan sebagainya, yang umurnya diperkirakan antara 2500 - 3000 tahun. Tak ubahnya pada objek wisata alam, Pagaralam menawarkan begitu banyak wisata alam yang masih alami sampai sekarang untuk dikunjungi. Seperti objek wisata Gunung Dempo yang dikelilingi oleh lembah-lembah yang indah, wisata sungai yang dapat dijadikan sebagai wahana olahraga arus deras (ORAD) serta wisata air terjun.

Visit Pagar Alam J ditunggu ya
lates blog : Pagaralamese.blogspot.com

Sumber : Pagaralam Post

SEJARAH KITE : ASAL USUL NAMA BESEMAH

SEJARAH KITE : ASAL USUL NAMA BESEMAH



Mengenal Besemah Rumpun Tertua di Sumatera Selatan
Asal-usul penyebutan atau penamaan Besemah, diyakini diambil dari nama ikan Semah. Tetapi akibat salah pengejaan dan penulisannya dalam bahasa asing, khususnya penjajah Kolonial Belanda nama suku ini cenderung disebut "Pasemah. Ikan Semah, nama ikan ini memang kurang familiar di telinga kebanyakan masyarakat Sumatera Selatan. Karena, jenis ikan mas ini hanya hidupdi aliran air jernih dan berbatu dan ditumbuhi lumut serta diteduhi pepohonan. Dari nama ikan Semah inilah diyakini nama etnis Besemah muncul. Ditambah awalan "be” yang berarti "ada", menunjukkan kawasan Besemah yang banyak ikan semahnya. Namun cerita asal-usul
nama Besemah ini juga masih terkait seputar legenda,alias cerita rakyat (folklore) yang berkembang secara turun temurun.
Dari keterangan jurai-jurai tuwe (anak laki-laki pertama pendiri dusun/desa atau suatu wilayah), istilah Besemah ini muncul ketika nenek moyang mereka melihat banyak ikan semah yang hidup di aliran sungai serta danau. Nenek moyang orang Besemah ini pun identik dengan pemimpin mereka Ratu Atung Bungsu. Konon, Ratu Atun Bungsu merupakan bangsawan dari Majapahit. Sebutan "Ratu" pada Atung Bungsu bukan berarti perempuan. Ratu merupkan sebutan lain dari "Raja" istilah saat ini. Menurut penelusuran Ahmad Bastari! Suan, penulis buku
"Lampik Mpat Mardike Duwe" yang diterbitkan Pemerintah Kota Pagaralam tahun 2008 lalu itu menguraikan( bahwa Kabupaten/Kota seperti OKU, Lahat, Pagaralam. Empat Lawang, Muara Enim hingga Bengkulu Selatan masuk wilayah Besemah. Wilayah tersebut banyak terdapat kesamaan. Dari budaya hingga strata sosial. Seperti bahasa misalnya, kebanyakan kata-kata berakhiran "e" (pepet). Juga dialek atau logat yang serupa. Memang ada beberapa pengucapan yang berbeda, tetapi tak terlalu jauh. Menariknya lagi, wilayah Besemah ini diyakini para jurai tuwe merupakan suatu kerajaan yang muncul setelah berakhirnya kejayaan Majapahit sekitar abad ke-6 Masehi. Kerajaannya bernama “Jagat Besemah”. Puncak kekuasaannya pada sekitar abad 15 hingga 17, berpusat di lereng Gunung Dempo. Akhir kerajaan ketika dipimpin Ratu kesepuluh. Singa Bekurung mengutus para Depati untuk menghadap Ratu Sinuhun istri Pangeran Sido Ing Kenayan, Raja Palembang, untuk bergabung dibawah kerajaan Palembang. Artinya,
Besemah bukan ditundukkan oleh kekuatan militer kerajaan Palembang tetapi bergabung atas kehendak sendiri. Hingga pemimpin ke-12,di Besemah masih menggunakan gelar "Ratu", meskipun saat itu telah berada dibawah kekuasaan Palembang.
Tentang asal-usul suku Besemah, versi lain menceritakan bahwa ada seorang "Wali Tua"
dari salahsatu anggota keluarga Kerajaan Majapahit berangkat ke Palembang, kemudian menikah dengan Putri (anak) Raja Iskandar yang merupakan Raja Palembang. Salahsatu keturunan inilah yang bernama Atung Bungsu yang pada suatu ketika berperahu menyelusuri sungai Lematang
dan akhirnya sampai di sungai yang belum diketahui namanya. Tempatnya menetap dinamakan Benuakeling. Di sungai itu, Atung Bungsu melihat banyak ikan semah yang mengerumuni bekas-bekas makanan yang dibuang ke sungai. Atung Bungsu menceritakan kepada istrinya bahwa di sungai banyak ikan semah-nya. Konon katanya nama ikan inilah yang menjadi cikal-bakal asal-usul nama "Besemah" yang artinya "sungai yang ada ikan semahnya". Sungai itulah yang sampai sekarang dikenal dengan nama Ayik Besemah, terletak di antara dusun Karanganyar dengan dusun Tebat Gunung Baru sekarang. Jadi, ada beberapa versi cerita mengenai ikan semah sebagai asal nama Besemah, diantaranya versi Atung Bungsu dan versi Senantan Buih. Di kawasan Besemah ini pula, banyak ditemukan peninggalan-peninggalan megalith. Hal Ini menunjukkan bahwasanya masyarakat Besemah sejak lama telah ada dan memiliki peradaban tinggi.

Visit Pagar Alam J ditunggu ya
lates blog : Pagaralamese.blogspot.com